Skip to Content

Blockchain Publik vs Blockchain Privat

Mana yang Lebih Transparan dalam Filantropi Digital?

Hallo sobat iBantu! 👋🏻 

Selamat datang di artikel yang akan membahas secara mendalam mengenai fundamental Blockchain dan penggunaannya dalam Lembaga Filantropi Digital. Yuk, jelajahi dunia teknologi blockchain dalam menstransformasi sistem penglolaan donasi di Lembaga Amil Zakat.

Teknologi Blockchain merupakan inovasi web 3.0 yang berperan sebagai buku besar terdesentralisasi dan bersifat immutable atau tidak bisa diubah. Teknologi ini memungkinkan penyimpanan catatan transaksi secara aman tanpa memerlukan keterlibatan atau pengelolaan dari entitas atau organisasi pusat, sehingga memastikan transparansi dan kepercayaan dalam setiap transaksi.

Teknologi blockchain ini telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, membawa inovasi yang signifikan dalam berbagai sektor industri. Secara sederhana, blockchain dapat diartikan sebagai buku besar digital terdesentralisasi yang mencatat setiap transaksi dalam ekosistem digital. Semua data transaksi tersimpan dan dapat diakses secara publik,  memastikan transparansi dan keamanan. Dalam jaringan ini, data disimpan dalam serangkaian blok yang saling terhubung, membentuk sebuah rantai (chain). Setiap blok memiliki hash, yakni kode unik yang berfungsi sebagai identitas dari masing-masing blok, serta berisi catatan transaksi atau data yang tidak dapat diubah.

Baca juga: What is Blockchain? 

Blockchain Privat vs Blockchain Publik

Sebelum membahas bagaimana blockchain diterapkan dalam lembaga filantropi digital, penting untuk memahami perbedaan mendasar antara blockchain publik dan privat. Pemahaman ini akan membantu dalam menilai keunggulan serta tantangan masing-masing jenis blockchain dalam mendukung transparansi dan efisiensi dalam dunia filantropi digital di Lembaga Amil Zakat.

Blockchain Public

Public Blockchain

Merupakan jenis blockchain yang bersifat terbuka dan dapat diakses oleh siapa saja tanpa memerlukan izin. Semua transaksi dalam jaringan ini bersifat transparan dan dapat diverifikasi oleh publik. Teknologi ini umumnya digunakan dalam sistem keuangan terdesentralisasi seperti Bitcoin dan Ethereum. Karena sifatnya yang desentralisasi penuh, tidak ada satu pihak pun yang memiliki kendali atas jaringan ini. Keamanan dalam blockchain publik terjaga melalui mekanisme konsensus seperti Proof of Work (PoW) atau Proof of Stake (PoS), yang memastikan bahwa data tidak dapat diubah atau dimanipulasi. Namun, blockchain publik sering kali memiliki tantangan seperti kecepatan transaksi yang lebih lambat dan biaya yang lebih tinggi karena memerlukan banyak daya komputasi.

Blockchain publik bersifat terdesentralisasi, yang berarti tidak ada individu, organisasi, atau kelompok tertentu yang memiliki kendali penuh atas aktivitas yang terjadi di dalam jaringan on-chain. Semua keputusan dalam ekosistem ini bergantung pada mekanisme konsensus, memastikan transparansi dan keadilan dalam setiap transaksi.

Contoh blockchain publik meliputi Dock, Bitcoin, dan Ethereum.

Blockchain Private 

Private Blockchain

Sementara itu, blockchain privat adalah buku besar terdesentralisasi yang hanya dapat diakses oleh sekelompok individu atau organisasi tertentu. Blockchain privat memiliki satu operator atau entitas yang mengontrol siapa saja yang dapat mengakses jaringan, melihat informasi, dan membuat data pada blockchain. Blockchain jenis ini lebih sering digunakan oleh perusahaan atau organisasi yang membutuhkan privasi dan efisiensi dalam transaksi. 

Contohnya adalah Hyperledger Fabric dan R3 Corda, yang banyak digunakan dalam sektor bisnis dan keuangan. Berbeda dengan blockchain publik, blokchchain privat memungkinkan otoritas pusat atau kelompok tertentu untuk mengontrol jaringan, sehingga transaksi dapat diproses lebih cepat dan dengan biaya yang lebih rendah.  

Baca juga: Mengenal Teknologi Buku Besar Terdesentralisasi Dalam Filantropi Digital 

Perbedaan Antara Blockchain Publik vs Blockchain Privat

Sebelum mengetahui lebih lanjut mengenai penerapan blockchain dalam filantropi digital, berikut merupakan peberdaan mengenai blockchain private  vs public:

Aspek

Blockchain Publik

Blockchain Pribadi



Transparansi

Public blockchain bersifat terbuka untuk siapa saja tanpa memerlukan izin. Setiap orang dapat membaca, menulis, dan memverifikasi transaksi di dalam jaringan.

Hanya dapat diakses oleh pihak-pihak tertentu yang telah diberikan izin. Hanya pengguna yang disetujui yang bisa membaca atau menambahkan transaksi ke dalam jaringan.




Desentralisasi

Sepenuhnya terdesentralisasi karena tidak ada satu entitas atau pihak yang mengendalikan jaringan. Semua transaksi diverifikasi oleh node yang tersebar di seluruh dunia.

Tidak sepenuhnya terdesentralisasi, Dikendalikan oleh satu atau beberapa entitas tertentu. Pengelola memiliki hak penuh untuk menentukan siapa yang dapat berpartisipasi.



Transparansi


Semua transaksi dapat dilihat oleh publik. Siapa pun bisa mengaudit data transaksi karena informasi disimpan dalam buku besar terdestribusi.

Hanya pihak yang memiliki izin yang bisa mengakses data transaksi. Informasi tetap terekam dalam blockchain, tetapi tidak semua orang bisa melihat atau memverifikasinya..



Kegunaan

Cocok untuk keuangan terdesentralisasi (DeFi), perdagangan aset digital seperti NFT, dan transaksi global tanpa perantara..

Lebih sesuai untuk perusahaan dan organisasi yang membutuhkan kontrol penuh atas data mereka..

Penggunaan Blockchain dalam Ekosistem Filantropi Digital

Filantropi Diigtal dengan Blockchain

Dalam ekosistem filantropi digital, penerapan blockchain menjadi solusi inovatif untuk meningkatkan transparansi, efisiensi, dan keamanan dalam pengelolaan dana donasi. Salah satu jenis blockchain yang lebih banyak digunakan dalam sektor ini adalah blockchain privat, karena memungkinkan lembaga filantropi untuk memiliki kontrol lebih besar terhadap data donasi sekaligus tetap menjaga keamanan informasi para donatur. 

Dengan blockchain privat ini, transaksi dapat diverifikasi secara otomatis melalui smart contracts tanpa perlu perantara, memastikan bahwa dana yang disalurkan benar-benar digunakan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Selain itu, blockchain privat memungkinkan organisasi filantropi untuk membatasi akses data hanya kepada pihak yang berkepentingan, sehingga tetap memenuhi standar keamanan dan privasi yang ketat. Dan tentu setiap donatur bisa melihat transaksi donasi mereka secara real-time melalui blockchain explorer.

Baca juga: Mengenal Teknologi Buku Besar Terdesentralisasi Dalam Filantropi Digital 

Salah satu contoh penerapan blockchain dalam sistem donasi online dilakukan oleh Lembaga Amil Zakat BMH Hidayatullah. Lembaga ini telah mengadopsi teknologi blockchain untuk meningkatkan transparansi dalam pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Dengan sistem berbasis blockchain, para donatur dapat dengan mudah melacak aliran dana mereka, memastikan bahwa setiap rupiah yang mereka sumbangkan benar-benar digunakan untuk program sosial yang telah dijanjikan. Langkah ini menjadi bukti nyata bagaimana teknologi blockchain, khususnya blockchain privat, dapat memberikan dampak positif dalam dunia filantropi digital dengan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga amal.

Yuk, pahami lebih lanjut mengenai blockchain di sini!

Referensi:

Mengungkap Perbedaan Sistem Donasi Tradisional vs Blockchain